Rabu, 18 Juni 2008

Santigi

Santigi
Keindahan bonsai tak lepas dari syarat dasar tanamannya. Syarat dasar tanaman bonsai adalah memiliki batang yang keras dan berumur panjang untuk proses pembentukan. Bambang Hermanto dari Juanda Bonsai berbagi pengalaman tentang syarat dasar tanaman bonsai yang baik.
Ada beberapa favorit jenis tanaman yang biasa digunakan oleh pebonsai sebagai syarat dasar tanaman bonsai. Diantaranya adalah jeruk kikit, asem jawa, beringin, dan sentigi. Dari beberapa jenis yang digunakan, sentigi mempunyai daya tahan lebih baik untuk proses pembentukan bonsai dibandingkan jenis lainnya. Pasalnya, asal tumbuhan keras ini ada di pesisir pantai dengan kondisi yang ekstrim.


Faktor daya tahan yang dimiliki jenis sentigi inilah, maka sentigi sering jadi pilihan penghobi, kolektor, dan pembibit. Ini dikatakan Bambang Hermanto, pemilik Juanda Bonsai di Surabaya, yang lebih menyukai tanaman sentigi untuk dikerjakan menjadi bonsai. Ia memilih sentigi sejak tahun 1987. Setelah merasa cocok dan berhasil mengembangkan bonsai dari sentigi, ia pun tak bisa ke lain hati. “Sentigi punya daya tahan yang baik dan gerakan yang bagus. Jadi, cocok dengan karakter saya,” imbuh Bambang.



Dilihat dari asal tanaman ini, memang bisa dipastikan kalau sentigi bisa hidup dalam iklim apapun, baik panas maupun dingin. Apalagi untuk kondisi daerah yang panas, terutama di kota besar seperti Surabaya dan Jakarta. Selain mudah dalam perawatan, sentigi juga mempunyai pola gerakan yang bagus, tertutama dari kelenturan batang dan karakter daun yang kecil. Potensi dasar yang sudah dimiliki sangat memudahkan para pebonsai untuk melakukan pengerjaan sesuai dengan keinginan mereka. Dengan mengambil pilihan untuk bonsai sentigi, Bambang mengaku hasil yang didapatkan tidak lagi konvensional. Salah satunya di tunjukkan dari koleksi sentigi bunjin gascado atau dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai gerakan tarian ke atas dan terjun ke bawah.

Dari koleksi tersebut terlihat bahwa karakter batang, dahan, dan ranting yang memanjang diolah, sehingga terlihat pohon sedang menari. Kemudian di salah satu dahan ada yang mengarah ke bawah dengan gerakan melingkar, sehingga disebut terjun.

Koleksi lainnya yang diperkenalkan adalah bunjin slanting yang berarti tarian yang condong. Nama tersebut cocok, sebab dari karakter tarian yang khas diperkuat dengan munculnya dahan besar yang condong ke luar dari pot dan meliuk ke atas kembali lagi ke pusat. Dari beberapa koleksi yang dimiliki, terlihat bahwa pria yang baru mendapatkan putra keduanya awal Agustus ini menyukai gerakan tarian dalam pengolahan bonsainya. Selain itu juga didukung oleh jenis sentigi yang memperkuat karakter bonsai miliknya.
Menurut Bambang, aliran di dunia bonsai sendiri terdiri dari beberapa karakter, tapi biasanya dipisahkan sebagai konvensional dan non konvensional. Untuk aliran konvensional biasanya menggunakan pohon beringin dengan bentuk mirip payung.

Sedangkan untuk non konvensional akan mengambil beberapa teknik gerakan baru seperti tarian maupun patahan. “Semua teknik sebenarnya sama saja, asalkan hasil akhirnya proporsional dan bisa menimbulkan perasaan teduh bagi yang melihat,” tandasnya.

Perawatan Mudah
Sentigi berasal dari beberapa daerah kepulauan yang tersebar di hampir seluruh Indonesia dan beberapa kepulauan tropis di dunia, seperti Sulawesi Selatan dan negara Afrika. Dengan habitat awal yang berada di wilayah pesisir, menjadikannya sebagai tanaman yang bisa tumbuh dimana saja, meski dengan perawatan dan perlakuan biasa.
Wajar apabila perawatan yang dilakukan tidak terlalu sulit, asalkan terpenuhi tiga unsur penting, yaitu air, angin, dan panas yang kuat. Ketiga unsur tersebut mutlak dipenuhi untuk mendapatkan pertumbuhan yang maksimal. Bahkan, masih kata Bambang, sentigi bisa bertahan dengan siraman air yang mengandung unsur garam lebih.
Itu bisa kita lihat di lokasi nurseri miliknya di kota Surabaya, dimana air tanahnya sedikit asin. Selain itu udara yang ada, banyak mengandung polusi dari banyaknya kendaraan yang melintas di dekat nurserinya. Namun itu menjadikan satu keuntungan tersendiri. “Sinar matahari dan hembusan angin yang kuat dibutuhkan oleh sentigi,” kata Bambang singkat.
Untuk media tanam yang digunakan cukup sederhana, yaitu dengan komposisi dominasi pasir Malang dan pupuk kandang. Pemilihan pasir memang sengaja diambil, karena dilihat dari habitat asli tanaman ini yang berada di pesisir pantai, sehingga kandungan pasirnya cukup besar.
Secara rutin media tanam harus disiram dan dijaga agar tetap basah. Ini dilakukan untuk menghindari tanaman kekurangan air. Yang perlu diingat adalah sinar matahari mutlak diperlukan, sehingga disarankan untuk meletakkan tanaman ini di luar ruangan.
Penyakit jadi satu hal yang ditakutkan oleh penghobi tanaman hias, termasuk bonsai sentigi. Hama utama yang sering menyerang adalah kutu merah dan ulat yang bisa menghabiskan daun serta menyerang batang. Pada tingkat berat, bonsai yang Anda miliki bisa saja mati.
Langkah awal yang dilakukan bila bonsai Anda terkena hama antara lain memisahkan bonsai dengan koleksi lainnya. Ini dilakukan untuk menghindari penularan. Bila hanya satu atau dua tanaman yang terserang sebaiknya dilakukan pembersihan tanpa bahan kimia. Caranya, tentu Anda harus melihat satu persatu bagian bonsai dan membuang kutu dan ulat.
Namun bila serangan hama sudah parah dan menyebar pada koleksi bonsai lainnya, cara terakhir tentu dengan menggunkan pestisida. Jangan lupa untuk menggunakannya sesuai dosis, sebab bila berlebih bisa menyebabkan hama tersebut kebal dan lebih sulit untuk dibasmi.
Biarkan Tumbuh Liar untuk Hasil Maksimal
Untuk pembentukan bonsai sentigi, Bambang menggunakan cara meliarkan dulu tanamannya, supaya mempermudah proses pembentukan. Dari bahan mentah bonsai yang didapat, sebaiknya dibiarkan dulu tumbuh liar untuk melihat gerakannya. Langkah ini diambil menyesuaikan karakter tanaman yang mempunyai dahan memanjang.
Setelah terlihat arah dan pembentukan bahan, selanjutnya dilakukan wiring dan purning (pemangkasan) beberapa dahan yang tidak diperlukan. Setelah pengkawatan pertama, tumbuhan diliarkan kembali supaya ketepatan proses pemotongan dan pengkawatannya terlihat.
“Kalau kita salah memotong cabang, akibatnya bisa fatal dan pengerjaannya akan lebih sulit,” ujar Bambang. “Bahkan dari beberapa bahan yang dikerjakan ada beberapa yang dijual dengan harga murah, akibat salah potong dahan. Kesalahan tersebut dilakukan saat mulai belajar, tapi sekarang sudah bisa diantisipasi,” tambahnya.
Setelah tumbuh liar dari wiring pertama, maka dilakukan purning kedua untuk dahan yang tidak dipakai. Dari proses wiring kedua, maka bonsai sudah memperlihatkan karakter dan selanjutnya perlakuan dilakukan menyesuaikan dengan pertumbuhan pohon. [wo2k]
Pasar Andalkan Komunitas
Pasar bonsai andalkan komunitasnya, sehingga ia masih laku terjual di pasar. Komunitas bonsai sendiri makin menunjukkan loyalitasnya dengan membuat wadah Perkumpulan Penggamar Bonsai Indonesia (PPBI). Kebetulan Bambang, pemilik Juanda Bonsai, ini menjabat sebagai wakil ketua PPBI Sidoarjo.
Salah satu agenda yang sedang digarap adalah merekrut sebanyak mungkin penggemar bonsai, khususnya untuk kelas pemula. Selain itu juga dilakukan pertemuan rutin sebagai ajang tukar ide dan pendidikan bagi pemula. Dengan makin banyak penggemar bonsai, otomatis pasar bursa akan mengikutinya.
Di beberapa wilayah yang dinilai memiliki sedikit penggemar bonsai, diusahakan untuk menggelar dan mengikuti pameran tanaman hias. Tujuannya untuk menunjukkan eksistensi bahwa bonsai, penggemar loyal, dan pasarnya masih ada.
“Usaha bonsai saat ini memang agak berat, sebab meski pasar ada, tapi tidak besar,” tandas Bambang.
Dilihat dari kondisi saat ini, ada beberapa alternatif yang bisa dilakukan oleh pengusaha bonsai, yaitu dengan menggarap semua segmen bonsai atau melengkapi koleksinya dengan tanaman hias yang jadi tren. Misalnya anthurium jenmanii atau adenium.
Untuk menyasar semua segmen bonsai, mulai dari bakalan, setengah jadi, bonsai jadi, dan bonsai kolektor masih bisa dilakukan demi kelangsungan usaha. Namun bila menyasar segmen yang luas, diperlukan Sumber Daya Manusia (SDM) yang banyak serta jaringan yang luas.
Pasalnya, untuk bakalan bonsai jenis sentigi saat ini banyak diburu, karena menjanjikan hasil yang baik. Bahan di beberapa lokasi yang biasa digunakan oleh pemburu bakalan bonsai sudah banyak berkurang, seperti di Madura, Jember, Sulawesi, dan Sumatera. Sedangkan untuk segmen kolektor, biasanya harus mendapatkan bonsai yang sempurna, yang tidak semua orang bisa melakukannya.

KAWISTA BATU

PRICE`S : 400.000
MODEL SLATING DIATAS BATU FOSIL BERUSIA 1000 TAHUN LEBIH

marnengan


harga : 200.000
habis di kawati prospek ke depan cerah umur 35 tahun,,berminat silahkan hubungi



DUNIA BONSAI

DUNIA BONSAI
Melakukan demonstrasi pembuatan bonsai. Tetapi, saya sejak berangkat dari Surabaya, tidak pernah berniat nonton demonya si Bill (Valavanis) ini, Karena ketika saya melihat foto 2 bonsai koleksinya (Honeysuckle dan Trident Maple) yang ditampilkan dalam sebuah majalah terbitan Indonesia, saya berkesimpulan kemampuan si Bill adalam membuat bonsai pasti tidak sepadan dengan promosi tentang dia yang dimuat di berbagai majalah maupun buku panduan ASPAC itu sendiri. Makanya saya memutuskan untuk sampai di Bali baru pada tanggal 2 September sore, sementara pada saat perjalanan saya menuju Bali itulah, Bill melakukan demo bonsai di ASPAC. Pada akhirnya, saya bersyukur tidak nonton demonya, karena sesampai di Bali (belum sampai tempat pameran) saya sudah dapat SMS dari teman yang nonton demonya si Bill, bahwa dia kecewa nonton demo itu karena 2 hal, pertama, Bill tidak menunjukkan kemampuan seperti yang dia harapkan sebelumnya. Yang kedua, sebagai orang Indonesia dia merasa terhina melihat ada penggemar bonsai Indonesia (dalam buku panduan ASPAC, penggemar ini juga dinyatakan sebagai salah satu demonstrator dari Indonesia) yang dijadikan asisten pada saat Valavanis demo, diperlakukan secara tidak layak oleh Valavanis dan……di depan mata seluruh penonton yang memenuhi Agung Room, tempat demo itu berlangsung. Kesan yang mengirim SMS tadi, Valavanis itu orangnya sangat kasar. Pada saat Valavanis melakukan demo di Agung Room, ada tim Indonesia yang melakukan demo pembuatan bonsai di Joget Kecak Room (lantai 2). Jelas yang nonton demo tim Indonesia pasti sedikit karena dalam buku panduan demonstrator Indonesia tersebut hanya dimuat foto, nama, dan asalnya, tanpa deskripsi atau latar belakang mereka. Padahal jika Valavanis ketika demo itu disatu panggungkan dengan Agus Sunarko (demonstrator dari Batu, Malang) dalam waktu bersamaan, saya yakin, hanya 5 menit pertama saja Valavanis akan mendapatkan perhatian dari penonton, berikutnya perhatian itu akan beralih ke Agus Sunarko. Agus Sunarko ini kalau diminta membuat bonsai, terutama jenis tanaman cemara, wah..wah, seperti terjadi komunikasi antara dia dengan tanaman yang dia kerjakan. Maklum jam terbang Agus Sunarko amat panjang, sudah ratusan (mungkin malah sudah melewati angka seribu) bonsai dia kerjakan, terutama bonsai jenis tanaman cemara atau uiniperus.
Valavanis memang sudah secara formal belajar dengan Kyuzo Murata dan Kakutaro Komuro di Omiya Bonsai Village, Jepang. Tapi menurut saya, Valavanis masih perlu belajar dari Agus Sunarko jika ingin membuat bonsai lebih indah. Saya tidak bercanda, ini sangat serius. Menurut saya hanya satu hal kekalahan Agus dari Valavanis,….. kalah promosi.
Jika komunitas bonsai negeri ini mau mempromosikan Agus lebih dari mempromosikan Valavanis, Nakajima, Mich Sherman dan yang lain, saya yakin Agus adalah salah satu maskot dan master bonsai Indonesia dan Internasional.
Melihat demo Mich Sherman, ya saya nggak punya kesan apa-apa. Apalgi terlihat dari dia belum pernah membuat bonsai santigi, pohon yang justru dia jadikan bahan untuk demo. Dalam demo itu dia sempat terlihat terkejut dan kemudian berkomentar….. Keras sekali ya kayu pohon santigi ini (tentunya dalam bahasa Inggris).
Tanggal 2 September, Maghrib, waktu saya berada di arena pameran, nampak seorang anak laki-laki muda wajah Amerika Latin. Jika jalan mukanya selalu diangkat ke atas, kesannya sombong. Saya bertanya kepada salah satu penggemar bonsai, siapa nama pemilik wajah Amerika Latin itu. Teman penggemar bonsai ini ternyata sebelumnya sudah mendapat kartu nama bule latin itu. Jadinya dia tunjukkan kartu nama bule latin itu ke saya. Tertulis nama Jose Luis Rodriguez Macias dan dalam kartu nama itu terdapat juga foto bonsai (jelas bonsai karya Jose sendiri). Sambil menunjukkan kartu nama Jose itu ke saya, teman tadi juga bilang bahwa Jose itu salah satu juri dan besok (tanggal 3 September) akan melakukan demo bonsai.
Melihat gambar bonsai di kartu nama Jose itu, saya terkejut. Rasanya belum pernah melihat bonsai karya orang Indonesia yang sejelek bonsai yang ada di foto kartu nama Jose, bule dari Puerto Rico ini. Anehnya kok bisa jadi juri? Apa pertimbangan panitia memilih dia jadi juri? Ini membuat saya penasaran. Jadi saya niat betul untuk melihat dia demo.
Dalam daftar acara, Zheng Chenggong & Jose Luis Rodriguez akan demo pada tanggal 3 September, jam 9-12, hanya ruangannya berbeda, Zheng di Agung Room dan Jose di Legong Pendet Room (lantai 2) INNA GRAND BALI BEACH HOTEL, SANUR. Ternyata hari itu mereka demo di panggung yang sama di Agung Room. Jose dan asistennya mendemokan pembuatan bonsai cemara udang sedangkan Zheng Chenggong dan timnya mendemokan pembuatan bonsai santigi. 3 jam melihat demo itu, saya kasihan dengan Jose. Keringatnya bercucuran terus, bukan karena suhu ruangan yang panas, tetapi dia terlihat gugup karena berusaha menutupi ketidakmampuannya membuat bonsai. Ketika dia memotong beberapa cabang yang tidak dia pakai, masih terlihat dia berhasil menyembunyikan ketidakmampuannya. Begitu dia harus mengkawati dan menekuk cabang yang dia pakai, barulah keringatnya deras mengalir. Yang parah, ditengah demo dia menyatakan ada cabang yang dia pertahankan untuk dia pakai, ternyata itu cabang mati, sebelumnya dia tidak tahu kalau itu cabang mati. Wow…. Kalau trainer Indonesia sampai melakukan kesalahan sefatal itu, bisa-bisa digebukin sama pemilik bonsai yang dia garap. Tapi membaca deskripsi Jose ini di buku panduan ASPAC yang diedarkan oleh panitia membuat orang berpersepsi akan menonton pendemo bonsai yang luar biasa. Kita cuplik sebagian deskripsi itu “……Jose lahir 1 April 1975, sudah lebih dari 20 tahun ia memutuskan untuk berkomitmen seumur hidup menciptakan dan merawat bonsainya. Sebagai artis sangat berbakat, selain member kuliah dan demonstrasi di negaranya dia juga telah menerima undangan untuk melakukan demonstrasi di Republik Dominika dan di Tropical Garden di Miami, Florida. Dia benar-benar seorang bintang yang rendah hati dari masyarakat bonsai Amerika Latin….” Ya, begitu pandainya orang kita mempromosikan bangsa lain, bombastis banget.
Kesan saya, Jose hanyalah pebonsai pemula, lebih baik dia ambil spesialisasi merawat bonsai. Melihat deskripsi tentang dia tadi, dengan modal begitu lama berkecimpung di bidang bonsai, tapi ketika demo hanya seperti itu, jelas memperlihatkan Jose tidak memiliki talenta yang cukup untuk menjadi seniman bonsai.
Ya, demo bonsai di ASPAC lebih menitikberatkan pada kepopuleran atau dipopulerkannya beberapa orang seolah-olah sebagai seniman bonsai, bukan menitikberatkan pada keberbakatan seseorang sebagai seniman bonsai (beneran).
Lepas dari berbagai kekurangan yang terjadi di ASPAC Bali, secara jujur dan tulus saya harus menyatakan salut kepada panitia penyelenggara yang bisa mewujudkan even yang sebesar itu dalam situasi seperti sekarang. Dapat dipastikan, begitu banyak perasan pikiran dan keringat dari seluruh insan yang tergabung dalam kepanitiaan ASPAC sehingga acara bisa berjalan dengan semarak. Selamat ya…….
posted by Sulistyanto Soejoso @ 8:03 PM 1 comments
Wednesday, May 10, 2006
Bagaimana Awalnya?
Dalam sebuah acara diskusi tentang bonsai yang dihadiri kurang lebih 80 orang peserta, saya ditanya tentang sejarah bonsai. Saya sebenarnya agak enggan menjawab pertanyaan itu, karena sudah ada beberapa buku bonsai yang menulis tentang sejarah bonsai. Tetapi tiba-tiba ada ide terlintas untuk membahas sejarah bonsai dari sisi yang lain. Saya kemudian memberikan pernyataan, jika yang dimaksud tentang sejarah bonsai itu adalah mulai tahun berapa budaya bonsai itu muncul, orang dari negara mana yang pertama kali membuat bonsai, dan lain-lain yang berhubungan dengan sejarah bonsai seperti persepsi kebanyakan orang, silahkan Anda baca sendiri di beberapa buku yang sudah membahas tentang hal itu.

Pertanyaan itu menjadi penting buat saya bahas, jika para peserta diskusi tertarik untuk membahasnya dari sisi yang lain, yang belum dibahas dalam buku-buku manapun yaitu kira-kira bonsai bagaimana yang dibuat oleh orang yang pertama kali membuat bonsai tersebut. Bonsai bukanlah sekedar miniatur pohon di alam. Buat apa kita membuat miniatur dari gaya pohon-pohon yang sehari-hari nampak di sekitar kita. Justru saya punya keyakinan bahwa orang yang pertama kali membuat bonsai, justru tertarik membuat miniatur pohon dari sebuah pohon yang gayanya tidak terlihat pada pohon-pohon yang tumbuh di sekitar tempat ia tinggal.

Mungkin, suatu saat dia berpergian jauh dari tempat tinggalnya dan menemukan ada pohon yang bentuk dan gayanya sangat unik, aneh, artistik sekaligus mengandung nilai estetika yang sangat mengagumkan dari sudut pandangnya. Karena gaya yang sangat unik tersebut, muncullah hasrat dan keinginan agar pohon dengan gaya unik tersebut bisa berada di sekitar tempat tinggalnya. Karena tidak mungkin memindahkan pohon itu, muncullah gagasan untuk membuat pohon dengan gaya unik tersebut dengan model miniatur. Sejak saat itulah muncul budaya bonsai.

Berpikir mendalam sangatlah penting dalam berkegiatan seni dan dalam meningkatkan kualitas SDM. Melihat sesuatu dari sisi lain adalah bagian dari berpikir mendalam. Berpikir mendalam adalah petualangan imajiner yang mempercepat peningkatan kemampuan kita dalam hal inovasi, kreasi dan imajinasi. Kemajuan di bidang apapun juga selalu dihasilkan dari ketiga proses tersebut.
posted by Sulistyanto Soejoso @ 1:49 AM 3 comments
Thursday, May 04, 2006
Banggalah Dengan Kekayaaan Flora Kita
Beberapa tahun terakhir ini, di kantor-kantor pemerintah di berbagai kota di Jawa, saya lihat ada pemandangan baru. Di halaman kantor-kantor itu ditanaman pohon-pohonan kelapa dari plastik yang ada lampunya. Kalau malam lampu pohon itu dinyalakan, indah memang. Tetapi keindahan itu membuat saya gundah. Pohon plastik? Ya, itulah yang membuat saya tidak habis pikir. Indonesia ini dikenal punya kekayaan flora nomor dua di dunia, sesudah Brazil., tapi di beberapa kantor pemerintahan ditanami pohon plastik. Di mana rasa wujud syukur kita atas karunia yang diberikan-Nya kepada negara ini? Seyogyanya kita bersyukur dan membanggakan karunia itu.

Sudah lama masyarakat Indonesia mengenal seni bonsai. Meskupun belum ada bukti konkrit (baru perkiraan) konon seni ini berasal dari China. Orang awam banyak yang mengira seni ini berasal dari Jepang karena Jepanglah yang mempopulerkan seni ini ke dunia internasional. Sampai saat ini masih banyak penggemar bonsai di Indonesia yang menjadikan China atau Jepang atau Taiwan sebagai kiblat perkembangan bonsai.

Ini adalah fakta:
1. Kekayaan flora Indonesia nomor dua di dunia.
2. Indonesia negara dua musim. Pertumbuhan pohon di daerah musim rata-rata jauh lebih cepat daripada pertumbuhan pohon di daerah empat musim.
3. Indonesia memiliki berpuluh-puluh suku yang menghasilkan budaya dan seni yang luar biasa beragam. Ragam budaya dan seni yang ada di Indonesia ini bisa kita jadikan pemantik inspirasi kita dalam mengembangkan seni bonsai di negara tercinta ini.
Berpijak pada beberapa fakta di atas, seharusnya Indonesia mampu menjadi barometer/kiblat perkembangan seni bonsai bagi bangsa lain, bukan malah sebaliknya. Tinggal satu yang kita butuhkan, kemauan kita untuk mewujudkan negara ini menjadi barometer/kiblat bagi negara lain. Kemauan menghasilkan kemampuan, tidak mungkin sebaliknya.

SENI BONSAI

Seni Bonsai
Bagi pecinta tanaman istilah bonsai tentu tak asing lagi. Tanaman yang di alam sejatinya raksasa direkayasa sedemikian rupa sehingga bisa hadir dalam bentuk yang mungil tanpa kehilangan kesan tua.
Seni mengerdilkan pohon ini mulai dikenal di Cina, sejak ribuan tahun yang lalu, diserap Jepang dan dikembangkan hingga kemudian menyebar ke berbagai belahan dunia termasuk Indonesia.
Untuk bisa menghasilkan detail sebuah bonsai yang menampilkan lekuk akar, kekokohan dengan rimbunnya dedaunan bahkan bunga atau buah, dibutuhkan waktu dan ketelatenan yang tidak sedikit.
Untuk bonsai kelas jawara, seniman bonsai malah membutuhkan waktu hingga belasan tahun hingga puluhan tahun agar bisa tampil prima dan menampilkan pesonanya yang membuat penikmatnya tak pernah bosan memandangi.
Pekan lalu Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) DKI dan Perkumpulan Penggemar Suiseki Indonesia (PPSI) menggelar pameran nasional bonsai dan di Mangga Dua Square selama delapan hari.
Berderet-deret tanaman dengan berbagai gaya merujuk pada bentuk mahkota pohonnya a.l Formal Upright, Informal Upright, Slanting Style, Cascade, dan Semi-Cascade yang alami.
Ada pula tampilan dengan gaya landscape (pemandangan), clam (berbatang banyak), bunjin atau literate (meliuk-liuk seperti huruf China), wind swept (tiupan angin), informal, slanting, moyogi dan banyak lagi.
Dalam arena bonsai internasional nama Indonesia sudah menempati kasta tersendiri sejak sukses menyelenggarakan pameran bonsai Asia Pasific Bonsai Convention and Exhibition (ASPAC) di Nusa Indah Convention Center Hotel, 15 tahun silam.
Perkembangan Indonesia yang pesat membuat, seluruh anggota ASPAC mempercayai Indonesia menjadi tuan rumah pameran bonsai dan suiseki akbar ke 9 tahun depan di Bali.
Meski indah, harus diakui pemasukan dari bisnis pohon bonsai lebih mirip ular alias sesekali namun langsung dalam nilai nominal yang besar sedangkan tanaman hias justru lebih rutin atau rutin diburu penggemarnya.
“Kita ini mirip ular. Sekali mencaplok bisa besar sekali. Setelah itu tidur untuk waktu yang cukup lama. Untuk itu harus pintar-pintar manajemen,” ujar seniman sekaligus pedagang bonsai Syamsul Hadi asal Banyuwangi.
Seniman bonsai tidak menomorsatukan uang. Tetapi lebih kepada kesabaran, jiwa seni, dan jiwa petualang. Kesabaran diperlukan untuk memelihara sementara jiwa seni berperan saat membentuk tajuk tanaman dan jiwa petualangan diperlukan saat memburu bakalan bonsai dari alam.
“Paling baik memang membuat bonsai dari biji atau stek. Tapi itu butuh waktu lama. Jalan tengahnya ya memburu bakalan bonsai dari alam dan itu tidak gampang. Kadang harus masuk hutan atau berlayar ke pulau-pulau terpencil,” ujar Hatra Oskahar atau Han Ceng.
Jika ogah menantang angin atau diggit nyamuk hutan, bisa juga membeli ‘bahan baku’ dari petani atau pemburu yang biasanya ditampung oleh pengepul dengan rentang harga bervariasi antara Rp5000 hingga setengah juta.
Bahan baku itu lantas mulai dibentuk dengan kawat aluminium atau tembaga ukuran 1 hingga 6 mm untuk memberikan kesan patah, berkibar atau merunduk tertiup angin kencang.
Jika tahap pembentukan sudah berhasil maka bonsai berukuran kecil saja harganya bisa mencapai ratusan ribu. Harga akan terus bertambah jika bonsainya disebut sudah jadi dan mendapat kategori A atau juara harganya bisa ratusan juta.
“Namun untuk menghasilkan bonsai seperti itu perlu kesabaran, karena membutuhkan waktu hingga belasan sampai puluhan tahun,” ujar Denny Najoan yang menggeluti bonsai sejak umur 17 tahun.
Sementara pembeli perempuan tidak melihat gaya namun lebih suka bonsai yang berbunga atau berbuah karena sedap dipandang.
Tak sekedar hobi
Perkembangan bonsai di Indonesia berbeda dengan di China dan Jepang. Pasalnya di kedua negara mayoritas Budha atau Kong Hu Chu itu, Bonsai merupakan bagian dari ibadah.
Sementara di Indonesia, bonsai tak lebih merupakan hobi semata. Meski begitu bonsai sanggup menyatukan orang dari kasta berbeda-beda dalam sebuah kegiatan yang sama.
“Tiap hari di safe house [sekaligus tempat berdagang] saya di Pluit, sudah biasa jadi tempat ngumpul bapak-bapak stres yang pulang dari kantor tapi malas pulang ke rumah. Tapi bagusnya mereka kumpul untuk membicarakan bonsai,” tutur Han Ceng.
Anda sudah maklum kalau yang disebut ‘bapak-bapak stres’ oleh Han Ceng tentu saja pekerja kantoran dari kelas menengah ke atas yang sudah tidak punya masalah dengan finansial.
Bahkan demi pameran dan kumpul-kumpul sesama penggila bonsai, seorang penghobi asal Yogyakarta tanpa pikir panjang meninggalkan rumahnya sudah tidak bisa dihuni lagi karena dilanda gempa.
“Rumah di Mangkubumi sudah tidak bisa dihuni kembali. Tapi untung bonsai-bonsai saya tidak apa-apa,” ujar Sukris Dwi Ruwanto yang mengusung dua koleksinya ke Jakarta.
Sayangnya hobi ini masih sulit membetot minat generasi muda yang sering kurang sabar memelihara bonsai. Hasilnya regenerasi di hobi ini berjalan lambat jika dibandingkan hobi yang lain.
Hal itu diakui dua juri pameran kali ini, M Umar HS dari Surabaya dan W Sawala dari Sidoarjo yang kesulitan mencari generasi baru dari anak-anak muda penggemar bonsai.
Padahal dengan bonsai orang bisa hidup berkecukupan tanpa harus frustasi bekerja di kantor. Syaratnya telaten, sabar, tekun sekaligus rajin mengembangkan perkenalan dengan sesama penghobi bonsai.
Sawala juga mengingatkan bonsai produk Indonesia punya pesona bagi kolektor dari negara lain. Mulai dari penghobi di Asia Tenggara, Eropa, Amerika hingga Timur Tengah rajin menyambangi pasar dalam negeri.
Pasalnya dari seluruh anggota ASPAC baru Indonesia yang memiliki sistem sertifikasi dan standarisasi bagi bonsai yang dipamerkan. Kriterianya dari madya atau belum pernah pameran dan utama yang menampilkan bonsai unggul.
“Indonesia adalah satu-satunya bahkan negara pertama yang memiliki sertifikasi dan standarisasi di bidang bonsai. Sebentar lagi kita melangkah pada gaya Indonesia,” tutur Denny Najoan.
Adanya sistem sertifikasi dan standarisasi membuat mutu di bidang bonsai bisa terjaga dan diharapkan bisa meningkatkan apresiasi masyarakat awam terhadap seni mengerdilkan pohon ini.
Alasannya sudah menjadi rahasia umum kalau masyarakat Indonesia lebih menghormati bonsai luar negeri yang belum tentu memiliki kualitas baik atau menghargai waktu yang dihabiskan oleh seniman bonsai.
Satu-satunya negara yang memberikan apresiasi penuh terhadap bonsai adalah Jepang. Hasilnya, hobi bonsai adalah hobi prestisius dengan nilai nominal selangit bahkan kadang tak bisa dihargai dengan uang.
Bahkan banyak orang kaya bilang, lebih baik beli bonsai daripada beli mobil mewah. Bagaimana dengan Anda?

asam manis


price`s : 500.000
bila berminat silahkan hubungi ...
asli dari batu umur sekitar 35 tahun,prospek kedepan cerah???

jeruk kikit


Price`s : 500.000
bila berminat silahkan telpon